Saturday, September 8, 2012

Apakah Atasan Anda Terlalu Bossy?



Salah satu keistimewaan menjadi seorang atasan adalah Anda berhak mendelegasikan tugas kepada bawahan. Anda juga harus memutuskan apa dan bagaimana suatu tugas harus dilakukan. Otoritas sebagai atasan tentunya datang bersama dengan tanggung jawab yang kurang menyenangkan.


Memberi perintah memberi kesan bahwa Anda memiliki kekuasaan, tetapi jika Anda cuma bisa memberi perintah, salah-salah Anda malah dianggap terlalubossy.


Agar Anda tidak dicap sekadar sebagai tukang perintah, simak ciri-ciri atasan yang bossy dan tidak bossy berikut ini.


1. Mendelegasikan tugas

Atasan yang baik akan melimpahkan tugas, bukan cuma memerintah. Karyawan diberi kesempatan untuk menggunakan caranya sendiri untuk menjalankan tugas, dan tidak terpatok pada satu cara yang diinginkan atasannya. Dengan melimpahkan tugas, Anda memungkinkan pemberdayaan karyawan agar lebih kreatif dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah. Anda memberi kebebasan yang bertanggung jawab pada anak buah, dengan tetap memberi pengawasan pada mereka untuk menjalankan tugas.

Atasan yang bossy hanya bisa memerintahkan bawahan untuk mengerjakan sesuatu, kadang-kadang karena ia sendiri tak mampu melakukannya. Atau, ia tak ingin melakukan pekerjaan yang akan menyita waktu luangnya. Kemungkinan lain, ia terlalu menikmati perannya sebagai bos sehingga memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan kekuasaannya.

2. Memotivasi
Selama atasan masih mendengarkan keinginan, dan umpan balik dari karyawan, serta mempertahankan rasa saling pengertian antarkaryawan, maka ia bisa dikategorikan sebagai atasan yang baik. Perbedaan antara bos yang tegas dan bos yang suka memerintah adalah, bos yang tegas memahami bahwa dia harus tegas mengarahkan, punya rasa saling membutuhkan, dan mengajak anggota timnya untuk lebih maju. Sementara, bos yang suka memerintah tidak akan peduli dengan anggota timnya, dan berpikir untuk dirinya sendiri.

Atasan yang hanya suka memerintah cenderung menggabungkan ketegasan mereka dalam ukuran yang tinggi, tidak menghormati, serta cenderung merendahkan orang lain. Sedangkan atasan yang baik tahu bagaimana cara bersikap tegas dengan cara positif, dan mendukung para karyawannya agar terus merasa termotivasi dalam bekerja.

3. Mengakui kesalahan
Seorang atasan yang sangat suka memerintah berarti berkeinginan untuk membatasi ekspresi dan kebebasan ide dari orang lain. Faktanya setiap orang dipekerjakan karena masing-masing dari mereka memiliki keterampilan, ide, dan perspektif unik bagi pekerjaannya. Jika bos terlalu memonopoli dan memanfaatkan wewenangnya untuk membenarkan semua hal yang dilakukannya, maka kerjasama tim tidak akan terbentuk.

Seorang atasan yang terlalu bossy biasanya hanya melihat kekurangan anggota timnya, dan bukan kontribusi positif dari masing-masing individu. Ia akan memberikan tekanan terus-menerus kepada bawahannya, tanpa tahu kapan memberi waktu bagi bawahan untuk "bernafas", atau membantu memberi solusi atas masalah yang terjadi.

Atasan yang baik tahu bagaimana cara memperlakukan anggota timnya dengan hormat dan baik, bahkan ketika mereka harus berkata tidak. Selain itu, ketika melakukan sebuah kesalahan, seorang atasan yang baik tidak sungkan untuk mengakui kesalahannya. Hal ini umumnya tidak akan dilakukan oleh atasan yang suka memerintah. Ia gengsi mengakui kesalahannya, dan kemungkinan akan melempar kesalahannya pada orang lain.(source:kompas)




0 comments:

Post a Comment